Kawanuainfo.com -Ketua Panitia HUT Proklamasi RI Ke-81 Kecamatan Kumelembuai, Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel), Henli Tuela, memberikan penjelasan pasca viralnya sebuah postingan media sosial yang berisi keluhan warga mengenai hadiah lomba Line Dance antar desa, yang dinilai tidak sesuai harapan.
Henli menegaskan bahwa dinamika tersebut terjadi akibat kesalahpahaman informasi (miss communication) antara panitia dan peserta saat penutupan acara.
Ia menjelaskan bahwa rincian penerimaan hadiah sebenarnya telah disosialisasikan secara transparan sejak pelaksanaan rapat teknis (technical meeting).
Adapun penyerahan di atas panggung saat penutupan acara bersifat simbolis berupa hadiah hiburan wadah Tupperware yang disesuaikan dengan ketersediaan anggaran.
Sementara itu, tropi utama bagi pemenang telah disiapkan dan berada di Kantor Desa Kumelembuai.
Namun lepas dari semuanya itu, Henli menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan tersebut sekaligus berterima kasih atas kritik dan masukan dari masyarakat, khususnya warga Desa Malola.
Ia pun menjelaskan, dasar dari kegiatan ini adalah untuk memupuk kebersamaan antar warga, sehingga seluruh rangkaian kegiatan perlombaan diselenggarakan secara gratis tanpa memungut biaya pendaftaran sedikit pun dari para peserta.
”Mohon maaf jika dalam kegiatan lomba mungkin hadiah tak sesuai harapan. Namun kami panitia punya motivasi bahwa prioritas utama lomba-lomba yang dilaksanakan adalah bentuk kebersamaan yang terus dipupuk sebagai sesama masyarakat Kecamatan Kumelembuai, dan apresiasi dalam bentuk hadiah adalah hal yang kedua,” ujar Henli kepada media kawanuainfo.com, Jumat (21/8/2026).
Di luar dinamika perlombaan, Henli Tuela menegaskan komitmen panitia untuk merampungkan agenda kerja tersisa, yaitu pembuatan papan penunjuk arah Kecamatan Kumelembuai.
”Terima kasih atas kritik bagi kami dari Desa Malola. Masih ada utang kami yang akan dibuat, yakni penunjuk arah Kecamatan Kumelembuai. Tuhan berkenan akhir bulan bisa diresmikan dan ditandatangani oleh Bapak Camat sebagai kado terakhir sebelum bertugas di Pemprov Sulut,” tambahnya.
Henli berharap insiden ini dapat menjadi pelajaran berharga dan bahan evaluasi agar pelaksanaan kegiatan serupa pada tahun-tahun mendatang dapat berjalan lebih baik, tanpa mengesampingkan semangat persatuan dan kesatuan antarwarga desa.
Disisi lain, Pemerintah Desa Malola melalui Hukum Tua Cianly Liando turut merespons situasi ini dengan menyampaikan permohonan maaf kepada Camat Kumelembuai, Ketua Panitia, Hukum Tua Desa Kumelembuai Satu, serta seluruh jajaran panitia atas ketidaknyamanan yang timbul.
”Kami sangat menghargai kerja keras panitia yang telah mencurahkan tenaga dan pikiran demi menyukseskan perayaan ini. Kiranya persoalan ini dapat kita sikapi dengan hati yang dingin dan penuh kasih, agar semangat persaudaraan, persatuan, dan kebersamaan yang telah terjalin baik di antara kita tetap terjaga,” ungkap Liando.
Ia menambahkan, ungkapan di media sosial tersebut murni dari ranah pribadi warga dan bukan sikap resmi pemerintah desa. (Red)

Tinggalkan Balasan