Oma Ine Rasubala (71) saat hadir bersama tim relawan untuk memadamkan kebakaran di gunung Awu Sangihe.
Manado, Kawanuainfo.com – Asap tipis masih mengepul di ketinggian seribu meter di atas permukaan laut. Di antara debu dan jalur pendakian yang curam, langkah kaki seorang perempuan sepuh tampak mantap menembus semak belukar.
Di usianya yang telah menginjak 71 tahun, Oma Ine Rasubala menolak tinggal diam. Ketika kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda kawasan Gunung Api Awu, Kabupaten Kepulauan Sangihe, warga Kelurahan Mahena, Kecamatan Tahuna, ini memilih turun tangan langsung ke medan kebakaran.
“Umur saya memang sudah 71 tahun, tetapi hati saya masih ingin membantu. Saya tidak mau hanya duduk melihat api membakar Gunung Awu,” ujar Ine, Jumat (18/9/2026).

Tanpa memedulikan risiko fisik di usia senja, Ine menyusuri jalur pendakian yang berat demi meringankan beban tim gabungan. Kehadirannya di garis depan pemadaman menjadi suntikan moral tersendiri bagi para relawan yang berjibaku melawan amukan si jago merah.
Bagi Ine, kepedulian terhadap kelestarian lingkungan Sangihe melampaui batasan usia dan tenaga.
Hingga kini, upaya pemadaman di kawasan Gunung Awu terus dilakukan oleh unsur gabungan dan masyarakat setempat. Di balik peluh dan pekatnya asap, kisah Ine Rasubala merekam sisi lain dari bencana, bahwa ketulusan merawat bumi tidak pernah mengenal kata pensiun.
Penulis : Candle Heiner Rogaga.

Tinggalkan Balasan