Kawanuainfo.com — Indonesia menyimpan ironi sebagai negara maritim yang kaya akan hasil laut, namun kekayaan tersebut belum otomatis menjamin tersedianya pangan bergizi yang aman dan terjangkau bagi seluruh masyarakat, khususnya anak-anak sekolah. Mengatasi tantangan tersebut, Prof. Dr. Roike Iwan Montolalu, S.Pi., M.Sc., Guru Besar Bidang Pengolahan Hasil Laut/Hasil Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi (UNSRAT) Manado, menawarkan perspektif ilmiah yang sangat relevan dengan program prioritas nasional.

Jauh sebelum pemanfaatan ikan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi agenda kerja sama nasional antara Badan Gizi Nasional (BGN) dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Prof. Roike telah mengangkat inovasi pengolahan hasil laut sebagai tema utama orasi ilmiah pengukuhan profesornya. Orasi yang disampaikan pada 16 Januari 2025, hanya sepuluh hari setelah MBG diluncurkan secara nasional pada 6 Januari 2025, mengusung judul: “Dari Laut ke Meja Makan: Inovasi Pengolahan Hasil Laut atau Hasil Perikanan untuk Mendukung Program Pemerintah Makan Bergizi Gratis (MBG)”.

Gagasan Akademik yang Bertemu dengan Kebijakan Nasional

Lebih dari setahun setelah orasi tersebut, arah kebijakan pemerintah semakin menunjukkan titik temu dengan gagasan Prof. Roike.

Pada 30 September 2026, BGN dan KKP resmi memperkuat kerja sama pemanfaatan ikan sebagai sumber protein utama penerima manfaat MBG, yang kemudian ditindaklanjuti dengan penyusunan rencana aksi periode 2026–2029 pada 14 Oktober 2026.

Kerja sama ini berfokus pada penguatan rantai dingin (cold chain), standardisasi mutu, keamanan pangan, serta pengembangan produk olahan yang praktis bagi dapur MBG.

Dalam pandangan Prof. Roike, memasukkan ikan ke dalam menu MBG tidak cukup hanya memastikan ketersediaannya di pelabuhan. Diperlukan teknologi pascapanen agar ikan dapat diolah secara higienis, mudah dikonsumsi anak-anak, serta terdistribusi dengan mutu yang terjaga.

Inovasi Pengolahan Cakalang, Rumput Laut, hingga Kemasan Berkelanjutan

Sebagai akademisi dengan rekam jejak internasional—lulusan magister dan doktor dari Tokyo University of Marine Science and Technology, Jepang—Prof. Roike bersama tim penelitinya telah menghasilkan berbagai kajian penting:

  • Pengolahan Ikan Cakalang: Penelitian tahun 2018 dalam International Food Research Journal mengkaji penggunaan asap cair untuk meningkatkan mutu produk cakalang asap sekaligus mengendalikan kontaminan berbahaya seperti polycyclic aromatic hydrocarbons (PAH). Riset lanjutan pada 2022 di Nutrición Clínica y Dietética Hospitalaria mengevaluasi masa simpan pampis cakalang asap cair menggunakan pengemasan vakum.
  • Diversifikasi Rumput Laut: Rumput laut diteliti sebagai sumber pangan fungsional alternatif untuk memperkaya variasi menu gizi lokal di luar komoditas daratan.
  • Teknologi Edible Film: Riset tahun 2024 mengembangkan lapisan pelindung makanan (edible film) berbasis karagenan (dari rumput laut), protein miofibril, dan kolagen guna mendukung sistem pengemasan pangan yang lebih berkelanjutan.

Kontribusi Nyata: Dari Riset Laboratorium hingga Pelatihan Manajerial SPPI

Peran Prof. Roike tidak hanya berhenti pada tataran konseptual dan publikasi ilmiah internasional. Ia juga mengambil bagian langsung dalam penyiapan sumber daya manusia pelaksana program melalui keterlibatannya sebagai narasumber/fasilitator dalam Pelatihan Manajerial Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) Batch 3 Tahun 2025.

Bersama jajaran dosen UNSRAT lainnya, ia turut membekali para calon pengelola satuan pelayanan pemenuhan gizi terkait aspek pangan, perikanan, agrosistem, hingga tata kelola manajerial di lapangan.

Melalui sinergi antara riset teknologi hasil perikanan, penguatan rantai pasok lokal, dan pelatihan SDM, Prof. Roike membuktikan bahwa perguruan tinggi dapat menjadi mitra strategis pemerintah. Gagasan “Dari Laut ke Meja Makan” menegaskan bahwa kekayaan maritim Indonesia bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan fondasi utama dalam membangun generasi bangsa yang sehat, cerdas, dan produktif.