Kawanualnfo.com — Ketua Umum DPP Partai GOLKAR Bahlil Lahadalia menghadiri acara Musyawarah daerah (Musda) Partai GOLKAR Provinsi Sulawesi Utara (Sulut).

Dalam pidatonya, Bahlil Lahadalia yang juga sebagai Menteri ESDM Republik Indonesia membongkar strategi jitu yang ia lakukan yang berhasil menahan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan menghindari krisis.

Bahlil mengungkapkan bahwa, Partai GOLKAR bersama-sama dengan pemerintah, atas arahan bapak presiden memerintahkan kepada saya, dalam rangka menanggapi dan mempelajari dampak perang di Timur Tengah terhadap BBM karena isu BBM adalah isu global.

“Dan atas dasar itu semua saya mau ceritakan kenapa BBM kita tidak naik. Itu karena Presidennya Ketua umum partai Gerindra, alumni partai GOLKAR dan Menteri ESDMnya adalah ketua umum partai GOLKAR,” ungkap Bahlil sambil tersenyum Sabtu, (11/4/2026) yang disambut tepuk tangan oleh seluruh kader partai GOLKAR Sulut.

“Karena kita kan suara rakyat suara GOLKAR dan saya punya keyakinan sekalipun Presiden Prabowo adalah ketua umum partai Gerindra, tetapi doktrin karya kekaryaan selalu melekat di dalam dada dan pikirannya,” tegas Bahlil.

Bahlil mengatakan bahwa, lifting BBM itu 605 ribu barel per day, konsumsi BBM 1,6 juta barel per day, dan impor satu juta barel per day. Berbeda dengan tahun 1996, 1997 itu produksi BBM 1,6 juta barel, konsumsi kita 500 ribu barel, ekspor sekitar satu juta barel per day.

“Nah, kaitannya dengan sekarang bagaimana? Orang tanya saya kenapa di Asia Tenggara goyang, harga naik, krisis, kok kita tenang- tenang saja. Dalam hati saya kamu tenang, saya tidak bisa tidur. Cuman kita sebagai laki-laki Timur biar sudah loyo harus gagah terus, padahal hati so hancur ini,” kelakar menteri Bahlil yang disambut tawa para kader GOLKAR.

“Tapi kita kan begitu to? Kita tidak bisa perlihatkan kelemahan kita ke orang, sekalipun kakak sudah mau jatuh ini,” sambung Bahlil penuh tawa.

Lanjut Bahlil, Indonesia pertama kali dalam sejarah dalam kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto memerintahkan dua hal yakni swasembada energi dan swasembada pangan.

“Di bidang pangan, beras sudah selesai. Saya putar otak. Saya tidak kuliah di teknik, dan saya gak ngerti itu bisnis minyak. Tapi begitu saya tau, cek. Waduh bagus juga barang ini. Untung aja saya tidak tahu sejak jadi pengusaha. Kalau saya tahu, oh licin betul ini barang,” kata Bahlil sambil tertawa.

Bahlil menjelaskan, kebutuhan bensin itu sekitar 40 juta kilo liter, kebutuhan solar itu 38 sampai 39 juta kilo liter, kebutuhan LPG itu 8,6 juta ton.

Dari kebutuhan itu, solar tahun 2026 dengan RDMP yang dibangun itu di Kalimantan Timur menghasilkan 4,6 juta kilo liter solar dan 5,7 juta kilo liter bensin.
Maka, dengan B40 dan diterapkan B50 pada bulan Juli tahun 2026, maka sejarah di Indonesia pertama kali tidak melakukan impor solar.

“Kita harus bangun. Ini kita kemudian harus survival mod. CPO kita, ekspor kita sekitar 30 juta ton, per tahun, sebagian itu kita dorong untuk bangun solar dengan bio disel. B40 adalah campuran antara CPO dengan metanol jadi fame, kita campurkan dengan solar BO. Jadi untuk solar kita clear,” jelas Bahlil.

Bensin dari total 40 juta produksi dalam negeri di tahun 2025 itu 14,5 juta kilo liter maka kurang lebih sekitar 25,5 juta kilo liter.

“Kita punya kilang di Kalimantan timur yang baru diresmikan itu tuju tahun dibangun tidak selesai-selesai. Saya bilang kalau model begini sampe ayam mau tumbuh gigi pun kita tidak akan selesai. Kenapa mereka tidak mau selesaikan? Karena kalau ini selesai, maka kita tidak lagi melakukan impor sebanyak 5,7 juta kilo liter bensin dan 4,6 juta kilo liter solar. Berarti importir yang main ini barang. Tapi dasar kita kepala batu, masak mau gertak-gertak kita? Saya suru mainkan barang ini. Sekarang, kita sudah resmikan tambah 5,5 juta, jadi kita impornya, tinggal 20 juta. ini otak orang Sulawesi semua ini,” jelas Bahlil sambil tersenyum.

Bahlil juga membeberkan bahwa, yang di impor adalah crude atau minyak mentahnya.

Dari total crude 20% diambil dari wilayah timur tengah termasuk Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan beberapa negara lainnya yang lewat Selatan Hormuz.

“Memang ini Hormuz sama Hermes ini beda-beda tipis. Semuanya mahal. Begitu Selat Hormuz tidak bisa dilewati, harga minyak semua naik. Sama dengan Hermes begitu ada keluaran baru harganya mahal,. Jadi semuanya beda-beda tipis,” kelakar Bahlil berlanjut.

“Nah pertanyaannya adalah apa strategi yang di buat? Saya ubah itu. Kita ambil dari Afrika, Anggota, Nigeria, Amerika, dan beberapa negara lain. Itulah kemudian yang membuat kita aman sampai sekarang ini,” sambungnya lagi.

Tak hanya itu, Bahlil juga mengungkap produksi LPG yang hanya 1,6 sampai 1,7 juta ton sementara, konsumsi sebanyak 8,6 juta ton, sehingga impor sekitar 7 juta ton.

“Saya itu mikir LPG. Maka saya waktu itu hampir jadi LPG. Bayangkan kalo LPG kurang, berapa banyak emak-emak yang akan kejar saya dan jangankan emak-emak, istri saya juga pasti akan marah saya gara-gara LPG,” kata Bahlil yang disambut riuh tertawa seluruh kader.

“Saya putar otak. Begitu terjadi ketegangan geopolitik, kita sudah dapat tempatnya, sebagian dari Amerika, Australia, dan beberapa negara lain,” terang Bahlil.

Terkait harga BBM Subsidi yang juga berhasil di tahan, Bahlil menjelaskan bahwa, kalau harga ECT naik ke 100 Dolar, itu berarti harus menambah dana subsidi kurang lebih 230 Triliun Rupian dari subsidi BBMnya tetapi kalau harga ICPnya naik bukan subsidiya yang kita tambah, tetapi bisa tambah pendapatan negara.

“Yang tadinya 70 Dolar dalam APBN menjadi 100 Dolar. 70 Dolar itu pendapatan PNBL,ita itu 10 miliar Delapan ratus juta USD, kemudian naik menjadi 100 Dolar, itu menjadi 17,6 miliar USD berarti ada tambahan pe dapatkan sebesar 119 Triliun Rupiah. Nah, dari 230 kurang 119 berarti kurang 110 Triliun Rupiah dapat dari mana lagi uang itu, iya karena kita menteri atas perintah bapak Presiden, saya carilah duitnya lagi, ambil lagi kita naikkan harga Nikel supaya dapat royalti, dapatlah sekitar 30 triliun, berarti kita punya kekurangan 80 triliun. Dapat dari mana lagi, saya pajak ekspor Nikel dan sebagian kecil batu bara, itu tambah lagi dapat 20 Triliun, kemudian kita lakukan efisiensi lewat program-program yang belum menjadi prioritas. Itulah neraca akademi faktual terhadap kondisi BBM kita terkait dengan subsidi. Jadi, untuk subsidi BBM kita insyaallah cukup dan kita sudah memutuskan dengan beberapa kabinet sampai dengan Desember, tidak ada kenaikan harga BBM dan LPG,” jelas Bahlil.

Bahlil pun mengaku dirinya baru mengupas strategi mengamankan BBM di negara Indonesia tersebut pada forum Musda partai GOLKAR Sulut.

(Erga Dirangga)