​Kawanuainfo.com — Saat kepulan asap mulai menyelimuti vegetasi kering di lereng Gunung Awu, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Gubernur Sulawesi Utara Mayjen TNI (Purn.) Yulius Selvanus tak mau membuang waktu dengan seremoni atau retorika. Sejak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terdeteksi meluas pada Sabtu (5/9), instruksinya jelas dan tidak berbelit-belit: keselamatan warga di atas segalanya, dan semua unsur harus bergerak cepat dalam satu komando.

​Kondisi lereng Gunung Awu yang terjal serta minimnya pasokan air di titik api membuat jalur darat sulit ditembus. Menanggapi situasi yang kian mengkhawatirkan ini, Yulius langsung memangkas jalur birokrasi. Ia memerintahkan koordinasi lintas instansi antara Pemprov Sulut, Pemkab Kepulauan Sangihe, BPBD, TNI-Polri, hingga jajaran pemadam kebakaran untuk langsung memetakan kekuatan di lapangan.

“Keselamatan masyarakat adalah prioritas utama. Saya minta seluruh jajaran bergerak cepat, terkoordinasi, dan jangan bekerja sendiri-sendiri,” tegas Yulius.

​Tak sekadar memberi perintah dari belakang meja, Gubernur juga menginstruksikan pendataan mendesak terkait kebutuhan dukungan dari pemerintah pusat. Menyikapi keterbatasan akses darat yang dihadapi personel, langkah taktis diambil bersama Bupati Kepulauan Sangihe Michael Thungari untuk menjajaki dukungan operasi pemadaman udara (water bombing) ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

​Gerak cepat di tingkat pimpinan ini diturunkan menjadi pola kerja taktis oleh Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda Prov. Sulut, Jemmy Ringkuangan. Seluruh tim operasional diwajibkan bekerja berdasarkan prinsip Satu Data, Satu komando dan Satu Gerak.

“Arahan Bapak Gubernur jelas, kita harus bergerak dengan satu data, satu komando dan satu gerak. Data titik api, luas terdampak, arah rambatan, kondisi cuaca, personel serta kebutuhan peralatan harus terus diperbarui. Dari data itulah kita menentukan langkah operasional dan dukungan yang diperlukan.” tandasnya.

Menurut Ringkuangan, fokus penanganan tidak hanya pada pemadaman, tetapi juga mencegah api menjalar ke perkebunan dan permukiman, memperkuat sekat bakar, melindungi personel di lapangan serta mengantisipasi munculnya titik api baru.

Penutupan sementara jalur pendakian Gunung Awu juga merupakan langkah penting untuk keselamatan. Pemkab Sangihe menyatakan tidak ada aktivitas pendakian sampai proses pemadaman selesai.

Pemprov Sulut mengimbau masyarakat tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar, tidak memasuki kawasan terdampak, serta segera melaporkan apabila menemukan titik api baru.

“Karhutla adalah tanggung jawab bersama. Pemerintah hadir, aparat bergerak, dan masyarakat harus ikut menjaga. Target kita jelas: api dikendalikan, masyarakat dilindungi, dan kawasan Gunung Awu kita selamatkan.” tegas Ringkuangan.