Kawanuainfo.com — Pertumbuhan sektor pariwisata di Kota Manado kian menunjukkan tren positif seiring meningkatnya minat investasi asing.

Namun, pesatnya arus investasi tersebut dinilai belum seimbang dengan kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) dan etos kerja tenaga kerja lokal di bidang pelayanan.

Kondisi ini menjadi perhatian serius Elizabeth Runtu, seorang pengacara yang berkiprah di Jakarta. Sebagai putri daerah yang memiliki darah Manado dari sang ayah, ia merasa memiliki kewajiban moral untuk rutin kembali ke tanah kelahirannya dan berkontribusi langsung bagi kemajuan masyarakat lokal.

Peninjauan tersebut dilakukan Elizabeth dalam beberapa hari terakhir, selama ia menikmati momen ‘pulang kampung’. Selain menikmati keindahan panorama Kota Manado, ia mengaku mencermati geliat pariwisata daerah yang kini makin gencar dilirik pemodal luar.

Dalam ulasannya, Elizabeth mengungkapkan rasa bangganya terhadap kehangatan warga Manado yang menjadi modal dasar luar biasa dalam industri jasa.

Ketulusan dan senyum hangat para pekerja muda di berbagai titik wisata menurutnya adalah identitas kuat daerah yang sangat diapresiasi oleh setiap wisatawan maupun investor.

“Saya melihat anak-anak kita yang bekerja di perusahaan pariwisata, restoran, maupun hotel itu luar biasa ya senyumannya, karena Manado ini kan terkenal dengan Torang Samua Basudara. Ketika saya melihat senyuman anak-anak Manado yang cantik-cantik dan tampan-tampan, saya merasa ada satu hal yang masih kurang dari pelayanan,” ujar Sekretaris 234 SC Kota Manado.

Namun, di balik kehangatan tersebut, Elizabeth prihatin saat mengamati langsung standar pelayanan (service excellence) di sejumlah fasilitas pariwisata. Dari pengalamannya menikmati ragam kuliner dan fasilitas lokal, ia menemukan masih ada ketimpangan ketrampilan teknis serta pemahaman pelayanan jika dibandingkan dengan standar kota-kota besar seperti Jakarta.

“Saya melihat banyak anak-anak kita ini rupanya belum ada kesempatan untuk dilatih, karena yang saya lihat itu jauh sekali daripada Jakarta. Walaupun kita tidak bisa bandingkan antara Jakarta dan Manado, tetapi jika kita lihat investor yang datang ke Manado itu tidak sedikit. Sekarang investor dari negara Tiongkok khususnya, lagi tinggi-tingginya masuk ke Manado, pariwisata juga lagi tinggi-tingginya,” terangnya.

Ia menilai para pekerja muda di sektor pariwisata Manado sebenarnya memiliki semangat dan kemauan kerja yang tinggi, namun belum mendapatkan kesempatan pelatihan yang memadai.

“Sangat sayang sekali jikalau apa yang kita berikan dan investor-investor yang invest di Manado khususnya tidak mendapatkan kesetaraan dalam service dari anak-anak kita. Intinya saya mau bicara mengenai sumber daya manusia di Kota Manado ini harus segera kita perbaiki. Walaupun ada yang kurang, tapi bagusnya mereka bisa senyum dan ketawa, kita mau marah juga tidak bisa karena mereka selalu tersenyum,” tambahnya sambil tersenyum.

Sebagai bentuk tanggung jawab moral sebagai putri daerah, Elizabeth menegaskan kesiapannya untuk rutin datang dan memberikan pelatihan.

“Ayah saya adalah orang Manado, jadi adalah suatu kewajiban untuk saya datang ke sini secara berkala dan melakukan sesuatu perubahan untuk anak-anak di Manado ini. Kita juga harus estafet untuk melakukan pelatihan-pelatihan untuk anak-anak di Manado supaya bisa bersamaan antara investor masuk dan juga pelayanan,” tegas Elizabeth, Sabtu (26/9/2026).

Melalui wadah komunitas “Kawan Mekar” yang didirikannya di Jakarta, Elizabeth berkomitmen untuk memboyong program-program pembinaan dan pelatihan ke Manado.

“Kebetulan saya di Jakarta memiliki komunitas Kawan Mekar yang memberikan kesempatan bagi anak-anak muda untuk dilakukan pelatihan sesuai minat mereka, dan tidak menutup kemungkinan kami akan membuka kantor di Manado,” jelasnya.

Menanggapi sorotan tersebut, ditempat yang sama, Ketua Organisasi Kemasyarakatan 234 SC Kota Manado, Risat Sanger, menegaskan komitmen pihaknya untuk mengambil langkah nyata melalui tiga fokus program strategis guna menjawab tantangan SDM di daerah.

Risat menjelaskan bahwa langkah pertama difokuskan pada penarikan modal dan pendampingan investasi.

“Fokus pertama kita adalah konsen mendukung pengembangan pariwisata di Sulawesi Utara, terlebih khusus Kota Manado, melalui mengajak para investor dari Tiongkok yang digagas oleh kantor pengacara Ibu Elizabeth Runtu untuk penanaman modal asing di Manado,” ujar Risat.

Selanjutnya, fokus kedua berpusat pada peningkatan kapasitas dan kualitas tenaga kerja lokal.

“Fokus kedua kita adalah memberikan pelatihan peningkatan etos kerja bagi tenaga kerja di bidang pariwisata melalui kerja sama dengan Kawan Mekar, komunitas yang konsen pada peningkatan kapasitas kinerja anak muda agar siap bekerja,” jelasnya.

Adapun fokus ketiga adalah membangun komunikasi intensif dengan para pelaku industri pariwisata daerah.

“Yang terakhir, kita akan menggagas gathering dengan para pelaku usaha karena mereka juga menyampaikan bahwa kemauan kerja tinggi, tetapi SDM tenaga kerja di sini belum cukup memadai. Melalui gathering ini kita coba mengurai persoalan tersebut bersama-sama,” tutup Risat.

Melalui integrasi antara masuknya investasi, dorongan kepedulian putri daerah, dan pelatihan keterampilan yang terstruktur, kualitas SDM pariwisata Kota Manado diharapkan dapat meningkat pesat dan sejajar dengan standar industri global. (Vil)