KawanuaInfo.com — Pemerintah Indonesia kini didesak untuk segera keluar dari Board of Peace (BoP).

Dilansir dari Suara.com Ratusan masyarakat sipil dan Aliansi Mahasiswa memadati area depan gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Jakarta Pusat pada Jumat (6/3/2026) sore.

Massa aksi hari ini datang membawa berbagai atribut demo, mulai dari bendera negara Palestina, poster, hingga spanduk tuntutan.

Di pagar depan gedung DPR RI, terlihat dibentangkan spanduk bertuliskan “Tolak BOP dan ART” dan “Tolak Pengiriman TNI ke Gaza” Di tengah kerumunan, sejumlah peserta aksi juga mengangkat poster bertuliskan “No Troops For Gaza”, “Stop War Stop Imperialis Stop Volence” dan “Resisti Resisti u.s Imperialisti”. Serta poster bergambar Presiden Prabowo dengan narasi “Make love Not War.

Aksi ini merupakan bentuk tuntutan atas mendesak pemerintah untuk bersikap tegas mengenai Board of Peace dan meminta DPR untuk tidak meratifikasi perjanjian dagang atau perjanjian kerjasama antara Amerika Serikat (AS) dan Indonesia.

Berdasarkan pantauan Suara.com di lokasi, massa mulai berdatangan sejak pukul 15.00 WIB di area depan gedung DPR RI

Tiga Tuntutan Utama Masyarakat sipil dan Aliansi Mahasiswa

Perwakilan Imparsial, Wira, menyampaikan tiga poin tuntutan utama yang dibawa dalam aksi demonstrasi ini:

  • Menuntut penolakan Board of Peace (BoP) dan Agreement on Reciprocal Trade (ART),
  • Menuntut agar DPR RI agar kemudian Bapak Ibu wakil rakyat tidak meratifikasi perjanjian dagang kerja sama antara Indonesia dan Amerika Serikat
  • Menuntut untuk mengadili penjahat perang Donald Trump dan Netanyahu.

1.436 Personel Disiagakan

Sementara itu sebanyak 1.436 personel gabungan dari Polda Metro Jaya, Polres Metro Jakarta Pusat, serta Polsek jajaran dikerahkan untuk memberikan pelayanan agar kegiatan penyampaian pendapat di muka umum berjalan aman dan tertib.

Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Reynold E.P. Hutagalung mengatakan kehadiran aparat bertujuan menjamin hak masyarakat dalam menyampaikan pendapat secara damai.

“Kita hadir untuk melayani saudara-saudara kita yang menyampaikan pendapat. Personel di lapangan tidak membawa senjata api dan diperintahkan untuk selalu mengedepankan sikap humanis, persuasif, dan profesional,” ujar Reynold kepada wartawan.

(Erga Dirangga)