KawanuaInfo.com — Ketegangan geopolitik di Timur Tengah terus menjadi perhatian investor global hingga memberikan dampak serius pada harga emas.
Dilansir dari Suara.com harga emas PT Aneka Tambang Tbk (Antam) pada hari Jumat, 13 Maret 2026 untuk ukuran satu dibanderol di harga Rp 3.021.000 per gram.
Dikutip dari situs Logam Mulia, harga emas Antam itu masih merosot Rp 21.000 dibandingkan Kamis, 12 Maret 2026.
Sementara itu, harga Buyback (beli kembali) emas Antam dibanderol di harga Rp 2.783.000 per gram.
Harga buyback itu juga jatuh Rp 21.000 dibandingkan dengan harga buyback hari Kamis kemarin.
Perlu diingat, harga tersebut belum termasuk pajak penghasilan (PPh) sebesar 0,45 persen bagi pemegang NPWP dan 0,9 persen yang tidak memiliki NPWP.
Pengenaan PPh ini sesuai dengan PMK Nomor 34/OMK.19/2017.3.
Seperti dikutip dari laman resmi Logam Mulia Antam, berikut adalah harga emas antam setelah pajak pada hari ini:
- Emas 0,5 Gram Rp 1.564.401
- Emas 1 Gram Rp 3.028.553
- Emas 2 gram Rp 5.996.955
- Emas 3 gram Rp 8.970.370
- Emas 5 gram Rp 14.917.200
- Emas 10 gram Rp 29.779.263
- Emas 25 gram Rp 74.322.343
- Emas 50 gram Rp 148.565.488
- Emas 100 gram Rp 297.052.780
- Emas 250 gram Rp 742.366.288
- Emas 500 gram Rp 1.484.522.060
- Emas 1.000 gram Rp 2.969.004.000
Harga Emas Dunia Melorot
Harga emas dunia mengalami tekanan pada perdagangan Jumat di tengah penguatan dolar Amerika Serikat (AS) serta kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Mengacu pada laporan FXStreet, harga emas spot (XAU/USD) menghadapi tekanan jual di sekitar level 5.090 dolar AS per ons pada sesi awal perdagangan Asia.
Logam mulia tersebut melanjutkan pelemahan setelah sebelumnya tertekan oleh penguatan dolar AS.
Selain itu, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS juga turut membebani pergerakan emas.
Kondisi ini membuat sebagian investor beralih ke instrumen yang memberikan imbal hasil lebih tinggi.
Pelaku pasar juga tengah menantikan rilis data Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) Amerika Serikat untuk Januari, yang dijadwalkan keluar pada Jumat waktu setempat.
Data tersebut menjadi salah satu indikator inflasi yang menjadi acuan utama bank sentral AS dalam menentukan arah kebijakan moneter.
Di sisi lain, ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut menjadi perhatian investor global.
Situasi memanas setelah pemimpin tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, menyatakan bahwa Selat Hormuz harus tetap tertutup dan Iran akan melanjutkan serangan terhadap negara-negara tetangganya di Teluk Persia.
Menurut laporan Bloomberg, Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga menyebut Iran sebagai “negara teror dan kebencian” serta mengatakan situasi di kawasan tersebut berkembang sangat cepat menuju kemungkinan keterlibatan militer terbatas dari AS.
Para pelaku pasar kini mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah tersebut.
Jika konflik berkepanjangan terjadi, hal itu berpotensi meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven seperti emas dalam jangka pendek.
Namun di sisi lain, konflik yang memanas juga memicu kekhawatiran meningkatnya inflasi di Amerika Serikat.
Kondisi ini dapat mendorong bank sentral AS atau Federal Reserve mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama.
Suku bunga yang tinggi biasanya membuat aset yang memberikan imbal hasil seperti obligasi pemerintah menjadi lebih menarik bagi investor dibandingkan dengan emas yang tidak memberikan imbal hasil.
(Erga Dirangga)

Tinggalkan Balasan