KawanuaInfo.com — Berkaca dari konflik di Timur tengah, pakar militer membeberkan rahasia kemenangan perang moderen.

Dilansir dari Suara.com di mata publik awam, negara yang memiliki jet tempur paling canggih, radar paling pintar, hingga rudal paling cepat sering kali diprediksi akan menjadi pemenang mutlak dalam sebuah peperangan.

Namun, dalam perang modern, keunggulan persenjataan fisik rupanya tidak selalu menjadi jaminan utama untuk menang.

Hal ini diungkapkan oleh mantan pilot tempur F-5 Tiger dan F-16 Fighting Falcon, Marsma TNI (Purn), Agung Sasongkojati, yang akrab disapa Sharky menyebutkan bahwa dinamika peperangan saat ini lebih menitikberatkan pada konsep “Perang Atrisi”.

“Perang atrisi itu adalah perang siapa yang lebih dulu kehabisan daya, kehabisan modal, amunisi, dan logistik. Atau tidak bisa meneruskan karena permasalahan bahwa dia ada yang harusnya mensupport dia tidak bisa mensupport lagi,” jelas Agung dalam kanal Youtube Forum Keadilan TV, Kamis (12/3/2026).

Agung menjelaskan bahwa atrisi tidak hanya bersifat fisik, melainkan juga non-fisik, seperti terkurasnya dukungan politik, turunnya moral, hingga melambungnya harga-harga kebutuhan.

Empat Instrumen Kekuatan Nasional (AS vs Iran)

Berdasarkan ilmu yang dipelajarinya, Agung membeberkan bahwa setiap negara memiliki empat instrumen kekuatan nasional utama saat berhadapan dengan negara lain, yakni: Diplomasi, Informasi, Militer, dan Ekonomi.

Keempat kekuatan inilah yang selama bertahun-tahun secara konsisten digunakan Amerika Serikat (AS) untuk menekan Iran.

Secara diplomasi dan informasi, AS menggunakan forum internasional dan dominasi media untuk memojokkan Iran.

“Amerika selama bertahun-tahun menggunakan empat kekuatan ini terhadap Iran. Secara diplomasi jelas di dalam berbagai forum internasional berhasil membuat Iran itu menjadi terpojok,” ujarnya.

Di sektor militer dan ekonomi, AS menerapkan sanksi embargo ketat selama lebih dari 40 tahun. Dampaknya, Iran kesulitan memperbaharui alutsistanya dan masih bergantung pada pesawat tempur peninggalan AS era 70-an seperti F-14 Tomcat, F-4 Phantom, dan F-5.

Sanksi ini juga menahan laju pertumbuhan ekonomi Iran karena banyak negara takut bertransaksi dengan Teheran.

Meski secara kasatmata kekuatan militer dan ekonomi Iran terlihat ditekan habis-habisan oleh AS, Agung mengingatkan bahwa pada tahun lalu, Iran mampu unjuk gigi menunjukkan kemampuan rudal balistiknya yang memaksa pihak lawan untuk mempertimbangkan opsi damai.

Titik Balik dan Rahasia Ketangguhan Iran

Meski ditekan selama puluhan tahun, Iran nyatanya tidak runtuh. Agung menjelaskan ada beberapa faktor yang membuat Iran berhasil bertahan dan keluar dari tekanan peperangan atrisi ini.

Pertama, perubahan geopolitik global. Sejak 2017, munculnya Rusia dan Tiongkok sebagai kekuatan adidaya baru yang menyaingi hegemoni tunggal (unipolar) AS memberikan jalan keluar bagi Iran.

Kedua negara tersebut dinilai tidak takut terhadap sanksi AS dan tetap menjalin kerja sama ekonomi, termasuk membeli minyak dari Iran.

Kedua, kualitas Sumber Daya Manusia (SDM).

Agung membeberkan fakta mengejutkan terkait tingkat kecerdasan penduduk Iran yang jauh berada di atas rata-rata global.

“Iran sendiri sebagai negara itu negara yang sebetulnya sangat potensi besar dari sumber daya manusia. Mereka ranking IQ-nya nomor 4 di dunia dengan level 106. Amerika 33 kayaknya 91 koma berapa dan Israel itu 37 kalau nggak salah 91 koma berapa juga. Jadi jauh angkanya 15 poin,” ungkapnya.

Ketiga, mentalitas dan ideologi kultural masyarakat Iran yang tahan banting.

Hal ini mengakar kuat pada keyakinan Syiah yang menjadi mayoritas di negara tersebut.

Sejarah panjang yang bermula dari peristiwa tragis cucu Nabi Muhammad, Hasan dan Husein, membentuk karakter bangsa Iran.

Bagi masyarakat Iran, penderitaan bukanlah sebuah kelemahan.

“Itu menjadi dasar mereka sehingga menderita itu adalah bagian daripada kebahagiaan dia. Menderita itu adalah bagian daripada bagaimana dia beragama,” ujarnya.

(Erga Dirangga)