Sulut, kawanuainfo.com – Kebanggaan masyarakat Sulawesi Utara (Sulut) dengan dipercayakannya dua putra daerah menduduki kursi pimpinan tinggi BUMN, harus sedikit tercoreng dengan masalah kelangkaan solar bersubsidi yang kini tengah menjadi perbincangan publik.
Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) lintas komisi DPRD Sulut membahas masalah kelangkaan solar bersubsidi, dua petinggi PT Pertamina asal Sulut, ikut tersorot.
Legislator PDIP Pierre Makisanti menilai, persoalan yang terjadi saat ini, mempermalukan wajah Sulawesi Utara.
Pasalnya kata Pierre, dua pimpinan pusat PT Pertamina saat ini merupakan orang Sulawesi Utara.
Keduanya yakni Simon Aloysius Mantiri yang kini menjabat Direktur PT Pertamina, dan Hanny Joost Pajouw komisaris PT Pertamina Gas (anak perusahaan PT Pertamina).
“Kita harusnya malu, direksi Pertamina orang Sulut, komisaris orang Sulut,” ungkap Pierre di ruang serbaguna DPRD Sulut, Selasa (30/9/2025).
Pierre mengatakan, persoalan ini harusnya menjadi perhatian kedua Putra Sulawesi Utara tersebut, yang kini duduk sebagai pimpinan tinggi PT Pertamina.
“Dorang juga harus malu sebenarnya dengan persoalan ini. Up agar supaya mereka tau, sampe dorang merasa kalau dorang orang Sulut,” berang Makisanti.
Masalah klasik ini lanjut Pierre, tidak bisa dianggap main-main, mengingat kendala para sopir dump truck dalam bekerja ada pada persoalan sulitnya mendapatkan solar bersubisidi.
“Masalah belanga kasian ini pak, nyanda main-main, ini masalah perut,” ujar Pierre dengan dialek Manado.
Ia pun lantas dengan tegas meminta kepada perwakilan PT Pertamina yang hadir dalam RDP, agar segera mencari solusi atas masalah ini.
“Jangan bermain dengan masalah ini, dengan anda hanya memikirkan kesejahteraan anda sendiri, pikirkan apa yang menjadi persoalan langsung selesaikan, tidak perlu berlarut-larut seperti ini, sudah lama,” kata dia.
Pierre pun menambahkan, agar manajemen Pertamina Sulutgo dapat menyampaikan hal ini kepada dewan direksi dan komisaris Pertamina pusat.
“Sampaikan kepada direksi, sampaikan ke komisaris apa yang menjadi persoalan intern pertamina, agar masyarakat tidak mengalami lagi masalah yang bertele-tele seperti ini, antri berkepanjangan padahal kuota banyak,” ucap personil komisi IV DPRD Sulut itu.
“Cari solusi yang cepat agar supaya masalah yang mereka sampaikan ini cepat teratasi,” tuturnya.
Menyambung apa yang disampaikan Pierre, Wakil Ketua DPRD Sulut Royke Anter pun mengingatkan bahwa bukan hanya direksi dan komisaris PT Pertamina yang berasal dari Sulawesi Utara, namun pimpinan tertinggi negara pun merupakan putra Sulawesi Utara.
“Bukan cuma direktur dan komisaris, Presiden juga orang Sulawesi Utara,” imbuh politisi partai Demokrat itu. (Red)

Tinggalkan Balasan