KawanuaInfo.com — Makanan Bergizi Gratis (MBG) sebagai salah satu program unggulan pemerintah dalam menopang anak-anak Indonesia yang ditopang oleh anggaran triliunan Rupiah itu, kini menjadi bulan-bulanan berbagai media asing.
Pelak saja, sorotan global terhadap MBG itu dipicu oleh tragedi kemanusiaan di mana, MBG telah mengakibatkan keracunan bagi 5.000 anak sekolah sejak pertengahan tahun 2025.
Sorotan terhadap MBG diangkat oleh kantor berita global, Reuters dalam artikel berjudul “Over 800 Indonesian students suffer mass food poisoning from government free meals” pada Sabtu (20/9/2025).
Reuters melaporkan lebih dari 800 siswa jatuh sakit hanya dalam satu minggu dari dua insiden terpisah.
Laporan tersebut mengutip data dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) yang mencatat lebih dari 4.000 anak telah menjadi korban sejak program diluncurkan pada Januari hingga Agustus.
Reuters melaporkan lebih dari 800 siswa jatuh sakit hanya dalam satu minggu dari dua insiden terpisah.
Laporan tersebut mengutip data dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) yang mencatat lebih dari 4.000 anak telah menjadi korban sejak program diluncurkan pada Januari hingga Agustus.
Reuters secara spesifik menyoroti kasus di Garut, Jawa Barat, di mana 569 siswa dari lima sekolah berbeda mengalami mual dan muntah setelah menyantap ayam dan nasi. Kasus besar lainnya terjadi di Kepulauan Banggai, Sulawesi Tengah, yang meracuni 277 siswa.
Reuters menekankan bahwa rentetan insiden ini memicu pertanyaan serius mengenai pengawasan dapur dan sistem distribusi makanan dalam program yang telah berkembang pesat hingga menjangkau lebih dari 20 juta penerima.
Tak hanya Reuters, media berpengaruh di Asia Tenggara, The Straits Times dari Singapura, juga menerbitkan berita dengan judul serupa: “Over 800 Indonesian students suffer food poisoning from eating government free meals”.
Media itu menggarisbawahi bahwa, pertanyaan besar kini muncul terkait standar dan pengawasan program yang memiliki target ambisius untuk mencapai 83 juta penerima dengan anggaran fantastis Rp 171 triliun, yang bahkan akan digandakan tahun depan.
The Straits Times menyoroti pernyataan maaf dari pemerintah, namun menekankan bahwa narasi utama yang berkembang adalah keraguan publik dan dunia internasional terhadap kemampuan pemerintah dalam mengelola program raksasa ini secara aman dan efektif.
Secara implisit, kedua media Internasional tersebut mempertanyakan bagaimana program dengan skala sebesar itu bisa memiliki celah pengawasan yang begitu fatal.
(Redaksi)

Tinggalkan Balasan